Entertainment

Internet

Flexible Home Layout

Latest Posts

Fashion

News

Food

Sports

Technology

Technology

Featured

Videos

Text Widget

Text Widget

About Sure Mag

Other News

World News

Diberdayakan oleh Blogger.

Comments

Facebook

Video

News

Entri yang Diunggulkan

Dua Momen Kematian, Pengantar Jalan Hijrahku

PanahIslam.com — Aku besar dalam lingkungan yang baik. Meski demikian, aku jauh dari Allah. Setelah lulus dari pendidikan militer, aku d...

Home Top Ad

Responsive Ads Here

Cari Blog Ini

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Blog Archive

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here

Lifestyle

Technology

3/Technology/small-col-left

Sports

3/Sports/small-col-right

Fashion

LightBlog

Recent Posts

Business

3/Business/big-col-left

Header Ads

Header ADS

Mengenai Saya

Foto saya
pusatlowongankerja.com merupakan Situs Penyedia Informasi Lowongan Kerja Terpercaya di Indonesia dan Sudah Berpengalaman dalam Memberikan Informasi Lowongan BUMN, BUMD, CPNS, PPPK dan Swasta secara terupdate

Hot News

Tags

Tags

Viral

Popular

Pages

Flickr Gallery

Technology

Gadgets

Latest Release

Kamis, 20 September 2018

pusatlowongankerja.com

Dua Momen Kematian, Pengantar Jalan Hijrahku

PanahIslam.com — Aku besar dalam lingkungan yang baik. Meski demikian, aku jauh dari Allah. Setelah lulus dari pendidikan militer, aku ditugaskan jauh dari kotaku. Tak lagi kudengar suara bacaan Alquran ayah selepas salat malam, juga suara ibu yang membangunkanku untuk salat.
Aku ditugaskan di sebuah jalan tol. Lama kelamaan, hidupku bagai terombang-ambing, banyak waktu luang namun ilmu terbatas. Aku jenuh dan merasa sebatang kara. Sampai suatu hari terjadi peristiwa tak terlupakan.
Waktu itu, aku dengan seorang teman sedang bertugas, dikagetkan oleh suara kecelakaan mobil. Kami segera berlari menuju tempat kejadian. Sungguh tragis. Pengemudi mobil pertama, telah tewas. Sementara dua awak mobil kedua, kritis. Setelah evakuasi, temanku berinisiatif menuntun mereka mengucapkan kalimat syahadat. Namun sungguh mengherankan, dari mulut mereka malah meluncur syair-syair lagu.
Seumur hidup, belum pernah kusaksikan orang sekarat, dengan kondisi seperti itu. Mereka pun meninggal. Tiba-tiba aku menjadi takut mati. Selang enam bulan dari peristiwa itu, sebuah kejadian mirip terjadi. Seorang lelaki muda turun dari mobilnya di sebuah terowongan menuju kota, untuk mengganti ban yang kempes. Ketika dia berdiri di belakang mobil, tiba-tiba sebuah mobil lain berkecepatan tinggi menabraknya. Lelaki itu terpental, bersimbah darah.
Aku dengan teman jaga, segera menghampirinya. Kami bawa dia menuju rumah sakit. Ketika mengangkatnya ke mobil, kudengar dia menggumamkan sesuatu. Ternyata dia melantunkan ayat-ayat suci Alquran, dengan suara amat lemah. Selama hidup aku tak pernah mendengar suara bacaan Alquran seindah itu. Tubuhku merinding.
Dalam perjalanan, tiba-tiba suara itu berhenti. Aku menoleh ke belakang. Kusaksikan dia mengacungkan jari telunjuknya lalu bersyahadat, lalu kepalanya terkulai. Aku melompat ke belakang. Dia telah wafat. Tak terasa air mataku menetes.
Sesampainya di rumah sakit, jenazah dipersiapkan untuk diantar ke rumah keluarganya. Entah kenapa aku ingin sekali menyalatkan dan mengantarkannya ke kuburan sebagai penghormatan terakhir.
Saat di rumahnya, salah seorang saudaranya mengisahkan bahwa almarhum gemar menghafal Alquran. Saat kecelakaan dia hendak menjenguk neneknya di desa. Itu rutin dia lakukan sambil menyantuni para tetangga nenek yang duafa. Ketika tejadi kecelakaan, mobilnya penuh dengan sembako yang akan dibagi-bagikannya.
Saat itu, seolah hari pertamaku di dunia. Aku benar-benar bertobat dari kebiasaan burukku. Mudah-mudahan Allah mengampuni dosa-dosaku di masa lalu dan memberiku kesudahan hidup yang baik. []
pusatlowongankerja.com

Islam Mengisi Hampaku (Kisah Remaja 17 Tahun yang Yakin Menjadi Mualaf)

PanahIslam.com — Aku bungsu, anak ke-4 dari 4 bersaudara. Alhamdulillah, saat ini aku bisa memperkenalkan diri dengan tegas bahwa aku seorang muslimah. Selain karena memang demikian, kewajiban sekaligus identitas sebagai muslimah yaitu berhijab, telah pula kukenakan.
Aku mendapat hidayah dan memutuskan masuk Islam (mualaf) 3 tahun yang lalu, saat kelas 2 SMA (17 tahun). Dengan agamaku yang sebelumnya aku merasa belum mendapatkan ketenangan jiwa.
Ayahku meninggal dunia saat aku masih duduk di bangku kelas 4 SD. Keluargaku kehilangan tulang punggung dan pemimpin. Kehidupan menjadi berubah. Kehidupanku seolah menjadi sepi, hampa, dan kosong. Terlebih saat kedua kakakku menikah.
Karena suatu hal aku, ibu, dan kakak (ketiga) pindah dan menempati rumah almarhumah nenek. Di sini masyarakatnya mayoritas beragama muslim. Aku tumbuh dan besar di sini, dan sedikit banyak ‘mengamati’ aktivitas masyarakatnya. Termasuk aktivitas ibadah dan bermasyarakat muslim di sini.
Tak berapa lama, ibuku dipinang oleh seseorang. Ibu pun menikah dan harus tinggal bersama suami (maaf) barunya. Sedang aku dan kakakku tetap tinggal di rumah nenek. Kami hanya berdua. Ibu sesekali datang menengok kami.
Keadaan itu membuatku semakin merasa sendiri. Merasa hampa. Aku senantiasa tak tenang dan gelisah, mengenai banyak hal. Aku mulai malas ke gereja. Mungkin ibaratnya, aku sudah bisa disebut kafir.
Saat aku merasa hampa aku hanya bisa menghibur diri dengan main ke rumah saudaraku di sebelah rumah. Sering saat melihat saudaraku salat hatiku merasa tenang. Aku merasakan ada sesuatu dalam hatiku, semacam rindu, atau entahlah yang tak dapat kudefiniskan. Di sekolah pun aku lebih nyaman duduk di bangku dekat musala. Aku senang memerhatikan teman-temanku salat, mendengar temanku mengaji, dan itu menambah tenangnya jiwaku. Bahkan, pernah pula aku mengenakan jilbab ke sekolah, mengejutkan teman-teman dan guruku.
Rasa yang tak kumengerti itu membuatku bimbang. Kumantapkan langkahku, mulai sedikit-sedikit belajar mengenai Islam, walau terkadang merasa bersalah karena saat itu aku masih beragama Kristen.
Akhirnya, saat kelas 2 SMA memberanikan diri, memutuskan menjadi mualaf. Kuajak salah satu teman untuk mengantarkanku ke sebuah masjid besar. Akhirnya aku pun mengucapkan dua kalimat syahadat itu. Maka sah lah aku menjadi muslim.
Awalnya orangtuaku dan ketiga kakakku menjauhiku. Kadang pula mencemooh. Namun dengan keteguhanku, akhirnya mereka sadar bahwa agama itu adalah sebuah pilihan. Sebuah kepercayaan atau keyakinan yang tidak dapat dipaksakan
Sejak saat itu jalan hidupku menjadi lebih berwarna. Tenang dan terasa lebih mudah. Banyak jalan dibukakan. Termasuk soal rezeki. Saat aku duduk di bangku kelas 3 aku diajak seorang temanku untuk kerja setelah pulang sekolah. Alhamdulillah, tabungan hasil kerja cukup untuk membantu ibu membayar uang sekolah yang tertunggak dan mengambil ijazah. Sungguh senang hatiku dan aku merasa Allah telah menuntunku dan memudahkan urusanku.
Setelah lulus pun aku langsung diterima kerja di perusahaan fashion muslim. Kurasahan demikian ‘hebat’ rahmat dan karunia Allah padaku. Islam telah menuntunku, memberiku ketenangan dan kemudahan. Kuucap syukur kepada Allah, karena semua ini atas rida-Nya. [Oleh: Arum, Yogyakarta. Dimuat dalam Majalah Hadila Edisi Mei 2014]
pusatlowongankerja.com

Tak Cukup Khusyuk, Hal-Hal Ini Juga Diperlukan Agar Doa Kita Terkabul

PanahIslam.com — Sore itu saya mengikuti taklim rutin. Ini salah satu usaha saya men-charge rohani. Berkumpul dengan orang-orang saleh, berharap dapat menstabilkan keimanan. Inti materi taklim, mengenai doa Khatmil Qur’an. Ketika lafal Arab dibacakan, saya masih merasa biasa. Tiba pada satu bagian dari doa dan tafsirnyaSeketika tubuh gemetar, air mata mengalir tak tertahan.
Berikut bagian tersebut, “Ya Allah, aku meminta permintaan yang terbaik, permohonan terbaik, keberhasilan terbaik, ilmu terbaik, amal terbaik, pahala terbaik, kehidupan terbaik, kematian terbaik, dan tetapkanlah aku dalam semua kebaikan itu. Beratkanlah timbangan (amal baikku), kukuhkanlah imanku, tinggikanlah derajatku, terimalah salatku, ampunilah kesalahan-kesalahanku; dan aku memohon surga yang paling tinggi kepada-Mu.”
“Doa itu adalah doa saya selama 2 minggu ini,” batin saya. Dimana saya merasa hampa, tidak bersemangat, tidak produktif dalam bekerja, minim ide, dan  mengalami berbagai macam kegagalan.
Saya pun menyimak tafsirnya, Bagian doa tadi merupakan contoh doa yang paling sering manusia inginkan, yaitu segala yang terbaik bagi kehidupannya, baik dunia maupun akhirat. Apakah itu sebuah pinta yang sedikit? Tentu tidak. Permohonan yang terbaik bagi kehidupan dunia dan akhirat merupakan permintaan yang sangat besar, sangat luas. Belum lagi ditambah meminta dihapuskan dosa, yang pastinya banyak. Lalu ditutup dengan meminta surga, yang paling tinggi pula. Sebetulnya apakah salah? Tidak. Doa tersebut dipanjatkan berulang kali pada Allah, sangat boleh, dan Allah suka. Namun, yang jadi pertanyaan adalah saat kita manusia meminta sebanyak itu, lantas apa yang telah kita berikan pada Allah?
Subhanallah, kepala saya tertunduk hingga ingin tersujud. Apa yang sudah saya lakukan hingga bisa dengan santai meminta segala yang terbaik? Padahal selama ini salat ditunda-tunda. Salat malam tidak dapat karena memilih begadang menyelesaikan project dunia hingga larut. Salat Duha terabaikan karena kesibukan. Membaca Alquran pun belum satu halaman sudah mengantuk, malas. Dan sedekah, sulit sekali rasanya, padahal tahu itu adalah harta titipan Allah.
Maka jangan heran bila Allah sempitkan hati yang awalnya lapang, sumbatkan inspirasi yang awalnya mengalir deras, resahkan diri yang awalnya tenang, persulit langkah yang awalnya mudah. Sebab kita tidak sadar, semakin banyak pinta, tapi semakin lupa memberi pada Allah. Sesungguhnya Allah tak berkehendak, Dia pemilik segalanya. Pemberian kita hanya bukti keseriusan dan tahu malu atas pinta kita.”
Lanjutan penjelasan, membuat saya bertekad. Terima kasih Allah, hingga saya masih bisa tersadarkan. [Dimuat dalam Pengalaman Ruhani, Hadila Edisi Juli 2014]
pusatlowongankerja.com

Bekerja Keraslah, Maka Keajaiban Akan Menyapa dari Arah Tak Terduga

Kisah Teladan | PanahIslam.com - Bagi yang pernah beribadah Haji atau Umrah, pasti merasakan ritual sai. Pada sai, kita seolah diingatkan (merasakan) kisah Bunda Siti Hajar.
Sunyi menyergap kegersangan yang membakar. Yang ada hanya pasir dan cadas membara. Tak ada pepohonan tempat bernaung. Tak terlihat air penyambung hidup. Hajar sendiri menanggung itu. Tak tampak insan untuk berbagi kesah, kecuali bayi mungil Ismail, yang mulai menangis begitu keras karena lapar dan haus. Maka Hajar pun berlari, mencoba mengais jejak air, menjawab tangis putra semata wayangnya.
Shafa-Marwa bukanlah perjalanan yang pendek. Terutama bagi orang yang telah didera kelelahan dan dehidrasi. Dari Shafa, Bunda Hajar terus berjalan membawa asa untuk setetes air, hingga Marwa. Dari ujung ke ujung seksama ditelisiknya. Tak ada. Sama sekali tak ada. Namun, dia terus mencari. Ke Shafa dengan harapan baru, lalu mengayun langkah lagi ke Marwa, hingga 7 kali.
Dalam ibadah Haji atau Umrah, para laki-laki yang katanya perkasa diminta merasakan betapa lelahnya Bunda Hajar. Juga betapa hebatnya dia yang tidak pernah mengeluh, tak kenal lelah, untuk ananda tercinta.
Wanita yang secara fisik tidak lebih kuat dari laki-laki, diberi Allah perasaan dan hati yang dengannya dia bisa lebih perkasa dari laki-laki. Saat bunda sedang senang, sedih, ataupun lelah, panggilan anak belahan jiwa selalu disambutnya dengan hati. Hingga saat para laki-laki telah mengeluh lelah, bunda menikmati itu semua.
Kisah Bunda Hajar, mengajarkan tentang makna kerja keras. Bunda Hajar mungkin tahu, tak pernah ada air di situ. Mungkin dia hanya ingin menunjukkan kesungguhannya pada Allah. Sebagaimana telah dia yakinkan sang suami, “Jika ini perintah Allah, Dia takkan pernah menyia-nyiakan kami!”
Maka keajaiban itu memancar. Zam-zam! Bukan dari jalan yang dia susuri atau jejak-jejak yang dia torehkan antara Shafa-Marwa. Namun, justru dari kaki Ismail, yang menangis, haus, menjejak-jejak. Bunda Hajar pun takjub. Begitulah keajaiban datang. Terkadang tak terletak dalam ikhtiar-ikhtiar kita.
Makna kerja keras itu adalah menunjukkan kesungguhan kita kepada Allah. Jadi mari bekerja keras seperti Hajar dengan gigih, dan yakin. Bahwa Dia tak pernah menyia-nyiakan iman dan amal kita. Lalu biarkan keajaiban itu datang dari jalan yang tak kita sangka atas kehendak-Nya. Biarkan keajaiban itu menenangkan hati, dari arah mana pun Dia kehendaki. Bekerja saja. Bekerja keras. Maka keajaiban akan menyapa dari arah tak terduga.[]

Rabu, 19 September 2018

pusatlowongankerja.com

Membalas Jasa dan Kebaikan Orangtua

Ini adalah kisah pengabdian seorang anak pada ibunya. Suatu waktu Nabi Muhammad Saw ditanya oleh sahabatnya, “Ya, Rasulullah adakah orang yang paling disayangi Allah Swt selain engkau?”
Nabi Menjawab, “Ada, yaitu Salman al Farisi.”  Lalu sahabat bertanya kembali, “Kenapa dia begitu disayang Allah, ya Rasulullah?” Kemudian Nabi bercerita tentang keistimewaan Salman.
Salman al-Farisi adalah seorang yang berasal dari keluarga miskin. Suatu hari, ibunya sangat ingin naik haji, padahal sedang dalam keadaan sakit hingga tak mampu berjalan. Salman juga tidak memiliki cukup uang untuk bisa menyewa hewan tunggangan agar bisa pergi ke Tanah Suci bersama sang ibu.
Namun, karena sayang dan cintanya pada Sang Ibu, akhirnya Salman memutuskan untuk mengantar ibunya naik haji dengan cara menggendong ibunya. Digendongnya sang ibu dari Kota Madinah menuju ke Kota Mekah. Melewati panasnya terik matahari ketika siang dan dinginnya malam hari serta beratnya gendongan yang ada di pundaknya. Di perlukan waktu berhari-hari untuk melaksanakan perjalanan itu sehingga tanpa terasa punggung Salman al-Farisi sampai terkelupas kulitnya.
Ketika akhirnya mereka sampai di Kota Mekah untuk melaksanakan ibadah haji mereka bertemu dengan Rasulullah. Bahagia sekali Salman beserta ibunya ini ketika mereka bertemu dengan utusan Allah yang sangat mereka cintai dan mereka rindukan.
Sembari melepas kerinduan, Salman lalu bertanya kepada Rasul, “Ya Rasul. apakah dengan seperti ini saya sudah membalas kebaikan orangtua saya? Saya menggendong ibu saya di pundak dari Madinah sampai Kota Mekah untuk melaksanakan ibadah haji.”
Seketika itu pula Rasul menangis. Kemudian Rasul menjawab dengan diiringi tangisnya yang tersedu-sedu, “Wahai Saudaraku, engkau sungguh anak yang luar biasa, engkau benar-benar anak saleh, tetapi maaf (sambil tetap menangis) apapun yang kamu lakukan di dunia ini untuk membahagiakan orangtuamu, apapun usaha kerasmu untuk menyenangkan orang tuamu, tidak akan pernah cukup membalas jasa orangtua yang telah membesarkanmu.
 Subhanallah, ternyata kebaikan Salman tidak cukup untuk ‘menukar’ atau membalas jasa dan kebaikan orangtuanya. Namun, meski demikian Salman telah menjadi seseorang yang disayangi Allah karena baktinya pada orangtua tersebut. []
Sumber : https://hadila.co.id/membalas-jasa-dan-kebaikan-orangtua/
pusatlowongankerja.com

Rasulullah, Sang Perajut Persaudaraan

Dia adalah pribadi menawan; sebab cinta dan perhatiannya pada setiap insan, berhulu dari ketulusan. Dia menguasai kaidah penting pergaulan. Tidak menghabiskan waktu membuat orang terpesona padanya, tetapi ‘memesona’ orang dengan ketertarikan dan perhatiannya pada orang lain.
Sebuah kisah di Thaif, membingkainya. Saat ditolak pemimpin Thaif, dia tetap berupaya menyampaikan risalah. Maka murkalah orang-orang atas seruannya. Mereka mencerca, meneriaki, mengejar, melempari batu, menghinakan, dan mengusirnya. Tubuhnya lebam, kakinya luka. Tertatih Dia hampiri sebatang pohon anggur di kebun Utbah ibn Rabi’ah. Beristirahat meredakan rasa sakit, zahir, maupun batin. Dengan senyum tengadah ke langit, segala aduan tertuju pada PenciptaNya.
Utbah pun merasa iba. Diperintahkanlah Addas, memberinya setandan anggur. Dia menerimanya dengan senyum, “Siapakah namamu wahai saudara yang mulia?”
“Namaku Addas, pembantu Tuan Utbah.”
Bismillahirrahmanirrahim,” ucapnya memetik sebulir anggur seraya mengulurkan anggur menawari Addas. Addas menggeleng dan tersenyum. “Kata-kata itu tak pernah diucapkan orang-orang di negeri ini,” kata Addas.
“Dari manakah asalmu hai Addas, dan apa pula agamamu?”
“Aku seorang Nasrani. Aku penduduk negeri Ninaway.”
Oh, dari negeri seorang saleh bernama Yunus ibn Matta?” tanyanya antusias. Mata Addas mengerjap lebih antusias. “Apa yang kau ketahui tentang Yunus ibn Matta?” tanya Addas. Dia tersenyum, “Dia saudaraku. Dia seorang Nabi, dan aku pun seorang Nabi.”
Mendengar itu, Addas merengkuh kepalanya penuh cinta dan mencium tangannya dengan penuh hormat.

Dia menguasai kaidah penting pergaulan. Tidak menghabiskan waktu membuat orang terpesona padanya, tetapi ‘memesona’ orang dengan ketertarikan dan perhatiannya pada orang lain.

Kisah lain bercerita, tentang dia dan ‘Amr ibn Al ‘Ash. Belasan tahun ‘Amr menjadikan silat lidahnya sebagai senjata menentang dakwahnya. Saat kemudian ‘Amr menyatakan keislaman; dia disambut senyum, dimuliakan, dan dilayaninya bagai saudara yang dirindukan.
‘Amr merasa dirinya istimewa. Pikirnya, itu karena bakat lisannya yang bermanfaat bagi dakwah. Maka ‘Amr beranikan diri meminta penegasan, “Siapakah yang paling kau cintai?”
Dia tersenyum. “’Aisyah,” katanya.  “Maksudku dari kalangan laki-laki,” kata ‘Amr.
Ayah ‘Aisyah.” Dia terus saja tersenyum pada ‘Amr.
“Lalu siapa lagi?”
’Umar.”
“Lalu siapa lagi?”
’Utsman,” masih dengan senyumnya.
Setelah itu ‘Amr menghentikan tanya, takut namanya disebut paling akhir. ‘Amr tersadar, bahwa dia adalah manusia yang membuat tiap jiwa merasa paling berharga dan paling dicinta. Bukan basa-basi, karena dia tak kehilangan kejujuran saat ditanya. Dia lah Rasulullah Muhammad Saw, Sang Perajut Persaudaraan. [Dimuat Hadila Edisi Oktober 2014]
pusatlowongankerja.com

Apakah Ucapan Syahadat Bagian dari Keimanan?

Al-Barzanjî menyebutkan perbedaan pendapat para ulama tentang ucapan dua kalimat syahadat; apakah merupakan bagian dari keimanan atau hanya merupakan syarat berlakunya hukum duniawi? Jika mengucapkan dua kalimat syahadat merupakan bagian dari keimanan, maka konsekuensinya adalah bahwa orang yang meninggalkannya, sementara ia mampu melakukannya, dinilai kafir dan kekal di neraka. Namun, jika hal itu hanya merupakan syarat berlakunya hukum duniawi, maka ia tidak kekal di neraka. 

As-Safâqasî—dalam Syarh At-Tamhîd— berkata, “Esensi iman adalah pembenaran (tashdîq). Ini adalah riwayat yang sahih dari Imam Abû Hanîfah r.a.” 

Allâmah Al-‘Ainî—dalam Syarh Al-Bukhârî—berkata, “Pernyataan dengan lisan merupakan syarat berlakunya hukum-hukum. Oleh karena itu, barangsiapa mengakui kebenaran sesuatu yang dibawa oleh Rasululullah Saw., maka ia adalah seorang Mukmin di hadapan Allah Swt., meskipun ia tidak mengikrarkannya dengan lisannya.” Hâfizhuddîn An-Nasafî berkata, “Hal itu diriwayatkan dari Abû Hanîfah. Pendapat inilah yang dianut oleh Imam Abû Al-Hasan Al-Asy‘arî dalam riwayat yang paling sahih darinya, dan ini juga pendapat yang dianut oleh Abû Manshûr Al-Mâtûrîdî.” 

Imam ‘Adhduddîn—dalam Al-Mawâqif—berkata, “Iman, menurut mazhab kami, adalah pembenaran terhadap Rasulullah Saw. karena diketahui bahwa apa yang dibawanya merupakan keniscayaan.” Penulis syarah buku tersebut, Sayyid Asy-Syarîf, mengatakan bahwa yang dimaksud dengan “menurut mazhab kami” adalah para pengikut mazhab Abû Al-Hasan Al-‘Asy‘arî. AlGhazâlî r.a. juga telah menegaskan mazhab ini dalam Ihyâ’ ‘Ulûmiddîn, dan ia telah menjelaskan masalah ini secara lebih terperinci. 

Pendapat di atas juga dianut oleh Imam Al-Haramain, para pengikut mazhab AlAsy‘arî, Al-Qâdhî Al-Bâqilânî dan Al-Ustâdz Abû Ishâq Al-Asfarâyinî. Bahkan, AtTaftâzânî menisbatkan pendapat ini kepada mayoritas muhaqqiq dan berdalil dengan hadis-hadis Nabi Saw., di antaranya “Barangsiapa mengakui dengan tulus bahwa Allah adalah Tuhannya dan bahwa aku adalah Nabinya, niscaya Allah mengharamkan dagingnya dari api neraka.” (HR Ath-Thabrânî dalam AlKabîr dari ‘Imrân bin Hushain) 

‘Utsmân bin ‘Affân meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Barangsiapa meninggal, sementara dia mengakui bahwa tidak ada tuhan selain Allah, niscaya dia masuk surga.” (HR Al-Bukhârî dan Muslim) 

Salamah bin Na‘îm Al-Asyja‘î r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Barangsiapa berjumpa dengan Allah, sementara dia tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, niscaya dia masuk surga.” Salamah bertanya, “Ya Rasulullah, meskipun dia berzina dan mencuri?’ Beliau menjawab, “Ya, meskipun dia berzina dan mencuri.” (HR AthThabrânî) 

Dalam penjelasan tentang syafaat, disebutkan hadis-hadis Nabi Saw. mengenai hal tersebut, sehingga pada hari kiamat, dikatakan kepada Rasulullah Saw., “Keluarkanlah dari neraka siapa saja (dari umatmu) yang di dalam hatinya terdapat keimanan, walaupun lebih kecil, lebih kecil, dan lebih kecil daripada biji sawi!” 

Al-Barzanjî telah menuliskan satu bab tersendiri yang di dalamnya ia mengutip banyak hadis Nabi Saw. yang berhubungan dengan hal itu. Semuanya menunjukkan bahwa orang yang di dalam hatinya terdapat keimanan, walaupun lebih kecil, lebih kecil, dan lebih kecil daripada biji sawi, niscaya ia tidak kekal di neraka. 

At-Taftâzânî dalam Syarh Al-Maqâshid, Al-Kamâl bin Al-Hammâm dalam Al-Musâyarah, dan Ibn Hajar dalam Syarh Al-Arba‘în mengatakan bahwa keselamatan di akhirat tidak menuntut syarat pengucapan dua kalimat syahadat. Jika keselamatan di akhirat menuntut syarat pengucapan dua kalimat syahadat, tetapi ia menolaknya karena pembangkangan dan kebencian terhadap Islam, maka ia tidak akan selamat dari neraka. 

Dari syarat tersebut, dipahami bahwa jika ia tidak mengucapkan dua kalimat syahadat setelah dituntut mengucapkannya, bukan karena kebencian terhadap Islam dan bukan pula karena pembangkangan, tetapi karena ada uzur yang dapat diterima, sedangkan hatinya tetap mantap dalam keimanan, maka ia tidak menjadi kafir di hadapan Allah Swt. Bahkan, sekalipun ia mengucapkan ungkapan kekafiran—karena dipaksa untuk mengucapkannya. Keadaan seperti itu tidak berpengaruh terhadap keimanannya. Allah Swt. Berfirman. 
Barangsiapa yang kafir pada Allah sesudah dia beriman ( dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir, padahal hatinya tetap mantap dalam keimanan (QS An-Nahl [16]: 106).

Dalil-dalil tersebut menunjukkan bahwa iman adalah pembenaran (tashdîq). Namun, pendapat lain mengatakan bahwa pembenaran saja tidak cukup. Seseorang harus mengikrarkan keislaman dengan lisan disertai pembenaran dalam hati. Oleh karena itu, menurut pendapat terakhir ini, orang yang tidak mengucapkan dua kalimat syahadat, padahal ia mampu mengucapkannya, kekal di neraka. Pendapat ini dianut oleh banyak ulama. An-Nawawî— dalam Syarh Muslim—mengutip kesepakatan Ahlus Sunnah dari kalangan ahli hadis, fukaha, dan ahli ilmu kalam terhadap pendapat itu, tetapi mereka menyanggah adanya kesepakatan tersebut 

Ibn Hajar—Syarh Al-Arba‘în—mengatakan bahwa para imam empat (Hanafî, Mâlikî, Syafi‘î, dan Hanbali) memiliki pendapat yang sama, yaitu bahwa ia (orang yang tidak mengucapkan dua kalimat syahadat) adalah orang Mukmin tetapi ia berbuat durhaka karena tidak mengucapkan dua kalimat syahadat. Namun, mayoritas pengikut mazhab Al-Asy‘arî dan sebagian muhaqqiq dari kalangan mazhab Hanafî, sebagaimana dikatakan oleh Al-Kamâl bin Al-Hammâm dan lain-lain, mengatakan bahwa mengikrarkan syahadat dengan lisan merupakan syarat berlakunya hukum-hukum duniawi saja.

Kemudian, Ibn Hajar menyebutkan perbedaan pendapat ulama tentang apakah mengucapkan dua kalimat syahadat harus dengan kalimat yang sudah kita kenal atau boleh dengan kalimat lain tetapi menunjukkan keimanan. Berkenaan dengan hal ini, ia menyebutkan dua pendapat di kalangan para ulama. Pertama, dua kalimat syahadat harus diucapkan dengan kalimat yang sudah dikenal dan tidak boleh dengan kalimat lain. Kedua, dan ini pendapat yang lebih kuat, dua kalimat syahadat tidak harus dengan kalimat yang sudah dikenal, dan menyatakan keimanan dapat dilakukan dengan kalimat lain.

Kemudian, hendaklah diketahui bahwa yang dimaksud dengan mengucapkan dua kalimat syahadat bukan dengan mengucapkan dua kalimat yang khusus (yang sudah dikenal). Hal itu bertentangan dengan pendapat Al-Ghazâlî, sebagaimana yang disebutkan oleh An-Nawawî dalam Ar-Raudhah, dan ia menisbatkan pendapat itu kepada seluruh ulama. 

Al-Halîmî—dalam Al-Minhâj—mengatakan bahwa tidak ada perdebatan mengenai pendapat yang menyebutkan bahwa pernyataan keimanan sudah dinilai sah bila dilakukan dengan kalimat lain, selain lâ ilâha illallâh (tiada tuhan selain Allah). Dengan demikian, seseorang boleh mengucapkan lâ ilâha ghairullâh, lâ ilâha mâ ‘adallâh, lâ ilâha siwallâh, mâ min ilâhin illallâh— semuanya berarti “tiada tuhan selain Allah”. Ia juga boleh mengucapkan lâ ilâha illa arrahmân (tidak ada tuhan kecuali Tuhan Yang Maha Pemurah), lâ rahmân illallâh (tidak ada tuhan yang pemurah selain Allah), atau lâ ilâha illâ al-bârî (tidak ada tuhan Tuhan Yang Maha Pencipta). Semua kalimat itu memiliki makna yang sama dengan kalimat lâ ilâha illallâh (tiada tuhan selain Allah). 

Demikian pula, dalam syahadat Rasul, seseorang boleh mengucapkan muhammad nabiyullâh (Muhammad adalah Nabi Allah), muhammad mab‘ûtsuhu (Muhammad adalah utusan-Nya), atau muhammad al-mâhî (Muhammad adalah penghapus syariat sebelumnya), atau kalimat dalam bahasa lain yang menunjukkan hal itu. Dengan mengucapkan kalimat mana pun dari kalimatkalimat di atas, keislaman seseorang sudah dinilai sah, dan ia dinyatakan sebagai seorang Muslim.[]

Diterjemahkan dari Asnâ Al-Mathâlib fî Najâh Abî Thâlib 
Karya Allâmah Sayyid Ahmad bin Zainî Dahlân (Mufti Mazhab Syâfi’î) 
Terbitan Maktabah Al-Bayyinah, Surabaya 

Penerjemah: Tholib Anis 
Penyunting: Irwan Kurniawan